Rabu, 09 Desember 2015

Perubahan Iklim, 7 Juta Manusia Terancam Tewas per Tahun

Perubahan Iklim, 7 Juta Manusia Terancam Tewas per Tahun

Sabtu, 5 Desember 2015 | 21:57 WIB
www.diplomate.gov.fr                                                                                                                                                               UNFCCC COP 21
PARIS, KOMPAS.com – Sebanyak tujuh juta manusia terancam meninggal setiap tahun akibat perubahan iklim dunia. Dunia didesak untuk melakukan tindakan serius menangani ancaman ini.

Demikian hasil studi The Lancet, jurnal medis terkemuka di dunia, yang dipublikasikan di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim ke-21 di Paris, Perancis, Jumat, (4/12/2015).

Hasil studi tersebut mendorong aliansi dokter, perawat, dan tenaga profesional kesehatan di seluruh dunia mendeklarasikan Gerakan Perubahan Iklim untuk Kesehatan Dunia.

Aliansi ini menaungi 1.700 tenaga kesehatan, 8.200 rumah sakit, dan 13 juta tenaga kesehatan professional yang tersebar di seluruh dunia.

Menanggapi laporan tersebut, Direktur Jenderal WHO Margaret Chan, mendorong para kepala negara yang hadir dalam konferensi untuk menghasilkan kesepakatan nyata mengenai perbaikan lingkungan.

“Perubahan Iklim, membawa konsekuensi dampak terhadap kesehatan, harus ada yang dilakukan sekarang, untuk masa depan kemanusiaan,” kata Margaret.

Efisiensi

Sementara, CEO Gunderson Health System, Jeff Thomson, mengemukakan, banyak organisasi-organisasi di seluruh dunia telah mampu meningkatkan kesehatan pasien dan masyarakat. Organisasi-organisasi tersebut juga mampu melakukan efisiensi di bidang perawatan.

"Sebagai pemimpin kesehatan kita memiliki dua kewajiban moral yaitu menjaga lingkungan kita dan tanggung jawab ekonomi untuk melakukannya dalam cara yang efisien dan hemat biaya," ujar dia.

Sistem kesehatan Gundersen, kata dia, telah mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 80 persen hanya dalam tujuh tahun dan menghemat jutaan dolar AS.
Penulis: Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor: Heru Margianto

Pianis Indonesia Joey Alexander Masuk Nominasi Dua Kategori Grammy Awards 2016


Pianis Indonesia Joey Alexander Masuk Nominasi Dua Kategori Grammy Awards 2016

The New York Times
Joey Alexander tampil di Dizzy's Club Coca-Cola, Manhattan, New York, AS.

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Pianis jazz belia dari Indonesia, Joey Alexander (12), masuk nominasi dua kategori penghargaan tahunan industri musik internasional Grammy Awards 2016 atau yang ke-58.

Dua kategori itu adalah Best Jazz Instrumental Album untuk album solo debutnya, My Favorite Things (2015), dan Best Improvised Jazz Solo untuk lagu berjudul "Giant Steps" dari album tersebut.

Dengan pencapaian ini, Joey adalah pianis jazz pertama dari Indonesia yang menjadi nomine untuk Grammy Awards.
Merujuk ke situs resmi Grammy Awards, www.grammy.com, dalam kategori Best Jazz Instrumental Album, anak laki-laki berkacamata tersebut bersama albumnya bersaing dengan empat artis musik lain yang membawa album masing-masing.

Mereka adalah Terence Blanchard featuring The E-Collective dengan album Breathless, Robert Glasper & The Robert Glasper Trio denganCovered: Recorded Live At Capitol Studios, Jimmy Greene denganBeautiful Life, dan John Scofield dengan Past Present

Sementara itu, dalam kategori Best Improvised Jazz Solo, ia berhadapan dengan Christian McBride, Donny McCaslin, Joshua Redman, dan John Scofield.

Grammy Awards 2016 akan diselenggarakan pada 15 Februari 2016 di Staples Center, Los Angeles, California, AS
Penulis: Yulianus Febriarko
Editor: Ati Kamil

Ahok Anggap Masalahnya dengan KPK Sudah Selesai

Ahok Anggap Masalahnya dengan KPK Sudah Selesai

Kamis, 10 Desember 2015 | 09:43 WIBKOMPAS.com/Kurnia Sari Aziza
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama wawancara dengan wartawan, di Balai Kota, Selasa (3/11/2015).
JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menanggap masalah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah selesai.

Dia mengakui ada miskomunikasi antara dirinya dengan pihak KPK perihal pembatalan undangan di Hari Anti Korupsi Internasional di Bandung, Kamis (10/12/2015) ini.

Padahal sebelumnya, Basuki sudah menuding KPK dengan berbagai sangkaan. Mulai dari masalah kasus RS Sumber Waras hingga adanya oknum pimpinan KPK yang berniat mengkriminalisasi dirinya. 

"Saya anggap masalah itu sudah selesailah. Aku baik-baik saja sama KPK," kata Basuki, di Balai Kota.

KPK sebelumnya membantah telah membatalkan undangan untuk Basuki. Pelaksana harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati mengatakan, Basuki batal menjadi pembicara.

Namun, tetap menerima penghargaan dalam Festival Antikorupsi yang akan diadakan di Bandung, Kamis (10/12/2015) ini. Akibatnya, Basuki sempat marah kepada KPK.

Menanggapi hal tersebut, Yuyuk menjelaskan bahwa prasangka Basuki itu hanya kesalahan komunikasi.

"KPK serahkan ke Pak Ahok (Basuki) memenuhi undangan tersebut atau tidak," kata Yuyuk.

Namun, Basuki tidak menghadiri acara tersebut dan diwakilkan oleh Inspektur DKI Mery Ernahani.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor: Ana Shofiana Syatiri