Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2016

Surat dari Praha: Tentang Cinta dan Rasa Sakit Seorang Eksil

Surat dari Praha: Tentang Cinta dan Rasa Sakit Seorang Eksil


Liputan6.com, Jakarta Seorang gadis muda muncul di kehidupan Jaya (Tyo Pakusadewo) tanpa diundang. Namanya Laras (Julie Estelle), datang jauh-jauh dari Indonesia mengantar satu kotak kayu kecil titipan ibunya yang baru almarhum, ke apartemen sederhana milik Jaya yang terletak di satu sudut kota Praha.
Wasiat ibunya, bila kotak kayu tersebut telah sampai ke tangan Jaya, barulah Laras bisa menguasai segala warisan yang ditinggalkannya. Ternyata, Jaya menolak mentah-mentah kotak kayu itu dan mengusir Laras dari tempat tinggalnya. Baru setelah Laras pergi, Jaya duduk tersedu bersama Bagong, anjing peliharaannya, sambil memanggil nama ibunda Laras. “Sulastri seda, Gong,” ujarnya di sela air mata, menangisi kematian perempuan yang dicintainya tanpa putus sejak dulu.

Petikan di atas, adalah salah satu adegan dalam film terbaru sutradara Angga Dwimas Sasongko, Surat dari Praha. Ya, film ini memang bercerita soal cinta, tema yang bolak-balik diangkat oleh sineas mana pun. Namun, Angga bersama penulis naskah film ini, M. Irfan Ramli, berhasil keluar dari segala hal klise dan picisan tentang cerita cinta.
Lihat saja dua tokoh utamanya, Jaya dan Laras. Jaya adalah laki-laki tua yang kehilangan kewarganegaraan gara-gara menolak mengakui pemerintahan Soeharto saat ia menjadi mahasiswa ikatan dinas di Praha, sehingga ia tak bisa pulang ke Indonesia. Tak hanya keluarga, ia juga kehilangan kekasihnya Sulastri, yang hanya bisa ia kirimi surat setelah 20 tahun menghilang.
Sementara Laras, adalah seorang gadis muda 'kekinian' yang memandang banyak hal dengan sinis. Ia juga memendam kemarahan pada ibunya yang ia anggap tak pernah peduli pada keluarga. Ibu yang di matanya hanya bisa senang saat melihat tukang pos datang untuk mengantar surat dari Jaya.

Beban akting dalam film ini bisa dikatakan bertumpu sepenuhnya pada dua tokoh utama, Julie Estelle dan Tyo Pakusadewo. Keduanya, menjawab tantangan ini dengan memberikan performa terbaiknya. Tarik menarik emosi antara dua tokoh ini berlangsung mulus, baik melalui baku dialog maupun adegan-adegan tanpa kata. Termasuk dalam menampilkan hubungan keduanya yang terasa ambigu.
Terutama Tyo, yang berhasil menampilkan lapisan demi lapisan tokoh Jaya secara begitu apik. Sebagai lelaki tua yang kesepian, sebagai seorang eksil dengan masa lalu yang pahit, dan juga sebagai seorang pecinta. Semua layer dari tokoh ini ia eksekusi dengan sama baiknya.


Selain bicara cinta, film ini juga memberikan tempat untuk musik dan sejarah politik. Angga berhasil meramu seluruh tema ini sehingga masing-masing dapat muncul bersama tanpa terasa janggal. Termasuk tema ‘berat’ sejarah dan politik, yang ia sajikan secara humanis lewat tokoh Jaya dan teman-temannya.
Kematangan Angga yang lain, terlihat dari ketegasannya dalam mengolah Praha sebagai lokasi syuting. Semua tahu bahwa ibu kota Republik Ceko ini penuh dengan lokasi indah yang menggiurkan. Namun Angga menahan diri untuk mengambil gambar-gambar penyedap mata ini secara berlebihan. Dan ini, adalah satu keputusan yang tepat.

Ketimbang bergenit-genit memamerkan pemandangan indah yang sebenarnya tak perlu, Angga memilih fokus dalam menjaga narasi. Hasilnya, film ini terasa lebih kuat dalam menampilkan relasi tokoh-tokohnya.

Surat dari Praha yang dirilis pada 28 Januari besok, memperlihatkan bahwa Angga adalah salah satu sineas muda Indonesia dengan rekam jejak yang terjaga. SetelahCahaya dari Timur: Beta MalukuFilosofi Kopi, dan kini Surat dari Praha, Angga membuktikan bahwa ia layak untuk dimasukkan pada daftar sutradara Indonesia yang karya-karyanya selanjutnya, tak boleh dilewatkan dari radar.

Jumat, 22 Januari 2016

Michelle Ziudith Sempat Stres Dalami Karakter 'LONDON LOVE STORY'

Michelle Ziudith Sempat Stres Dalami Karakter 'LONDON LOVE STORY'

Michelle Ziudith


Michelle Ziudith Sempat Stres Dalami Karakter 'LONDON LOVE STORY'
Kapanlagi.com - Tidak bisa dipungkiri kalau Screenplay Produksi selaku Production House yang populer dengan sederet sinetron ber-rating tinggi berhasil memuaskan moviegoers muda lewat film dramanya, MAGIC HOUR. Di tahun ini, mereka kembali dengan tema senada yang berjudul LONDON LOVE STORY. Tetap membawa 2 bintang besar sebelumnya, Michelle Ziudith pun kembali beradu akting dengan Dimas Anggara. Hanya saja, ia mengaku kalau sempat mengalami stres saat memerankan karakter Caramel di film tersebut. Lho, kok bisa ya? Michelle pun menjelaskannya pada awak media beberapa waktu lalu.
"Aku sempat stres dalami karakter ini. Karena proses reading-nya cukup lama, keseharian jadi kayak Caramel yang anteng, diem, suka fake smile. Sama orang yang nggak disuka tapi tetap ketawa," ujar Michelle saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (14/1).
Cukup bertolak belakang, Michelle Ziudith bahkan sampai sulit tidur demi mendalami karakter Caramel © KapanLagi.com/Budy Santoso
Cukup bertolak belakang, Michelle Ziudith bahkan sampai sulit tidur demi mendalami karakter Caramel © KapanLagi.com/Budy Santoso
Bukan cuma itu saja, bahkan Michelle pun sampai menjatuhkan air mata demi mendalami karakter yang sangat bertolak belakang dengan kesehariannya. Bahkan, ia sampai mengalami insomnia demi mendalami karakter Caramel di LONDON LOVE STORY.
"Aku sampai nangis karena peran ini. Sampai sekarang kadang suka diem kalo sakit hati. Kebawa sifatnya Caramel. Memendam banyak hal memang sebagai entertainer, meski nggak enak. Jadinya insomnia," pungkasnya.
Meski begitu, Michelle Ziudith tetap berhasil menyelesaikan bagiannya di film tersebut. Tentu saja film ini wajib kamu saksikan KLovers. Yap, karena LONDON LOVE STORY bakal bikin hati kamu tertegun lewat kisah cinta segi empat dan permasalahan yang pelik. So, tandai kalendarmu tanggal 4 Februari nanti ya KLovers! :D